 |
Bahlil Lahadalia
|
MAYBRAT, (Maybrat News) - Berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil
Lahadalia menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar mengawali
karir dari titik nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses.
Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk
bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Mulai dari
tukang kue semasa kecil, seorang kondektur, hinga menjadi sopir angkot
pun dia jalani.
Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976
ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’
anak-anak pengusaha dan pejabat. Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi
sukses seperti sekarang. Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun
pernah juga merasakan sakit busung lapar.
Berikut wawancara bahlil dengan detik.com :
Bisa Anda ceritakan bagaimana awal mula jadi pebisnis?
Kalau ditanya awal mula jadi pengusaha itu, mungkin saya itu dari
kecil ya, dari kecil sejak SD saya itu memang sudah jualan kue ya. Itu
terjadi bukan karena ingin, saya juga dulu nggak ingin jadi pengusaha.
Tapi karena itu keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mamah
saya itu kan laundry di rumah orang, pembantu rumah tangga. Bapak saya
itu buruh bangunan, gajinya Rp 7.500/hari.
Jadi kami 8 orang (keluarga) kan, (awalnya) 9, terus satu meninggal,
saya anak kedua. Jadi memang sejak SD itu kalau saya mau sekolah, harus
cari duit. Jadi saya menjual kue, menjaja kue dari apa yang mamah saya
buat, itu adalah bentuk keharusan, yang saya harus lakukan dalam rangka
mempertahankan eksistensi hidup. Kalau nggak, saya nggak bisa bantu
mamah saya, adik-adik saya banyak.
Dan dari situ lah kemudian saya bisa beli buku, bisa beli sepatu,
bisa beli kelereng. Itu berlanjut terus sampai dengan SMP, saya SMP pun,
karena memang kondisi orang tua yang susah, akhirnya saya pernah jadi
kondektur angkot. Jadi jualan ikan di pasar, itu pernah. Terus pernah
jadi helper excavator dari kontraktor, itu pernah. Tinggal di hutan pada
saat musim libur sekolah. Saya SMP kelas 3, saya di SMEA, itu jadi
sopir angkot.
Itu saat Anda masih di Papua?
Masih di Papua. Jadi bagi saya, sekolah sambil cari duit itu adalah
sebuah keharusan, keterpaksaan dalam rangka melanjutkan hidup,
melanjutkan sekolah, dan sekaligus membantu orang tua saya.
Saya kuliah pun begitu, jadi saya waktu berangkat kuliah itu orang
tua nggak pernah tahu, bahwa saya itu kuliah. Karena saya itu hanya
berangkat dan bawa ijazah, baju saya cuma tiga, kemudian modal saya cuma
SIM, dan kantong kresek, saya naik Perintis, dari Fakfak ke Jayapura.
Itu dua minggu baru tiba ke Jayapura, naik Perintis kan. Campur dengan
kambing-kambing di situ, apa namanya, kayu, keladi, sudah campur, Kapal
Perintis itu. Jadi memang, waktu itu berangkat karena melihat teman-teman
seangkatan saya pergi kuliah, dan saya tidak tahu harus kemana masa
hidup di terminal terus, (maka) mencoba lah berangkat ke Jayapura.
Orang tua tahu Anda pergi ke Jayapura?
Orang tahu kalau saya berangkat ke Jayapura, tapi tidak tahu saya
berangkat kuliah, kan ‘kamu dapat duit dari mana’. Saya berangkat kuliah
itu kan, saya cuma bawa ijazah saya saja, saya berangkat ke Jayapura,
sama almarhum ayah saya. Ngapain kamu di Jayapura? ‘udalah cari nasib
saja’. Berangkat saya.
Lantas apa yang dilakukan waktu di Jayapura?
Waktu saya berangkat kuliah di Jayapura, itu saya tinggal di asrama.
Waktu itu tidak ada lagi kampus yang menerima saya, tapi saat saya
tinggal di asrama itu, kan asrama mahasiswa, ketua asrama saya dulu itu
sekarang jadi Wakil Gubernur Papua Barat.
Jadi pada saat berangkat, saya tinggal di asrama karena nggak punya
keluarga, karena di situ semua kuliah, jadi bingung saya. Terus wakil
gubernur itu bilang sama saya, ‘kau harus kuliah’ saya udah mau kuliah,
tapi bagaimana nggak punya duit. ‘Sudah kuliah saja, ayo kita daftar’.
(Lalu) saya daftar di swasta.
Jadi pagi-pagi saya daftar, jam 5 subuh, asrama kami itu dekat dengan
pasar, jadi saya tukang dorong gerobak. Jadi, kan dari pasar ke tengah
jalan, ke pasar itu kurang lebih 70-100 meter, mau tidak mau orang
belanja kan harus tenteng tuh belajaannya sampai di pinggir jalan besar
sampai dia naik angkot. Nah saya bagian memfasilitasi itu, saya masih
ingat itu Rp 200 perak, saya masih ingat itu.
Jadi dari situ lah saya cari duit untuk kuliah. dari situ saya cari duit untuk kuliah, karena jual koran juga saya.
Anda tidak malu sama teman-teman?
Malu sih ada ya, nggak mungkin nggak ya. Tapi pertanyaan berikut
adalah, you malu karena kerja ini atau you mati, atau you maling. Saya
mencoba sebagai orang dewasa, sudah tamat SMA, sudah tahu cewe lah, rasa
malu ada tapi saya mencoba menyembunyikan itu. Dan tidak untu
memperlihatkan. Yang penting niat saya waktu itu adalah, sudah deh saya
kuliah. Tapi memang sejak SMP saya sudah nakal, di terminal mana ada
orang nggak nakal. Terminal itu kan tempat berkumpulnya anak-anak nakal
di situ.
Jadi berkelahi, miras itu saya sudah tahu sejak SMP kelas satu. Nah
karena itu mungkin waktu saya kuliah di Jayapura, masuk kuliah daftar,
ya sambil kuliah, maksudnya jadi aktivis. Saya semester tiga sudah jadi
ketua senat. Jadi saya dipenjara beberapa kali, demo tahun 98, tahun 97
itu kan. Tapi dipenjara bukan karena maling, atau perkosaan orang,
bukan. Sebagai ketua senat, memimpin pergerakan memang. Waktu itu saya
eks66, waktu di Papua, kami adalah pelakunya.
Semester 5 saya ketua senat, setelah itu semester 6 saya mulai
berpikir bahwa saya harus menghentikan kemiskinan ini. Waktu itu tekad
saya mengatakan begini, harus setop dengan kemiskinan, kemiskinan ini
paling tidak baik.
Waktu itu nasibnya belum sebaik sekarang?
Tinggal di asrama itu, makannya itu makan apa coba? saya nggak pernah
dapat kiriman dari orang tua. Jadi belanjanya itu kalau dapat duit beli
beras, kita makannya itu setengah nasi, setengah bubur. Kenapa? supaya
dapat banyak. Kalau beras sudah habis, itu kami sarapan pagi pakai
mangga, mangga buah, mangga muda yang jatuh di samping asrama, itu yang
saya makan. Makanya saya pernah sakit busung lapar, ini nggak pernah
media tahu.
Saya pernah busung lapar, semester 6 saya busung lapar. Asli busung
lapar. Jadi penderitaan yang bener-bener paling menderita itu saya
rasain. Nah, pada saat itu ketika saya sakit, saya mengatakan begini,
saya harus berhenti dengan kemiskinan, dan caranya satu-satunya adalah
dengan jadi pengusaha.
Itu belum lulus kuliah?
Belum. Masih masuk polisi, keluar polisi (penjara-Red). Masih pegang
spanduk, keluar spanduk. Masih di atas mobil mimbar, tapi gagah dulu ya
kan. Ketua senat gitu kan, jadi ya cewe-cewe suka, mulai suka itu di
saat saya jadi ketua senat, kira-kira begitu. Waktu itu di tahun 97-98
itu. Saya kemudian, mulai dari situ semester 6 mulai berpikir saya harus
menjadi seorang pengusaha. Di situlah saya mulai belajar. Saya pernah
jadi pegawai asuransi.
Awal mula jadi pengusaha Anda jadi pegawai asuransi?
Iya saya pernah pegang asuransi, pernah pegang Sucofindo pegawai
kontrakan. Kemudian ketika saya selesai kuliah tahun 2002, kuliah saya
lama banget 7 tahun, harusnya orang sudah selesai S2 bahkan S3, tapi
saya waktu itu kan 7 tahun. Kemudian waktu selesai kuliah, saya membangun satu perusahaan dengan
teman-teman di Jakarta. Itu konsultan keuangan, IT. Saya waktu itu
ditunjuk sebagai karyawan dan menjadi direktur wilayah di sana.
Direktur wilayah di mana?
Di Papua. Saat itu saya belum menikah. Usia saya 25 tahun. Itu lah pertama saya pegang uang gede itu di situ.
Berapa gaji pertama yang didapat?
Gaji saya waktu itu Rp 35 juta. Karyawan saya hampir 70 orang, dan
rata-rata karyawan saya itu adalah orang keuangan, ada yang tamatan UGM,
ada yang tamatan yang di IT, juga tamatan Jerman, tapi karena peta
lapangannya saya yang kuasai, jadi saya yang ditunjuk oleh teman-teman
di Jakarta untuk menjadi pimpinan cabang di sana.
Konsultan apa?
konsultan keuangan.
Ilmu soal keuangan itu Anda dapat dari mana?
Saya memang kuliahnya di keuangan. Saya keuangan, tapi memang
sebenarnya menjadi pemimpin itu kan ilmunya tidak hanya pada konteks
profesional, tapi lebih
leadership. Dan ilmu itu saya dapat dari organisasi. Mengatur orang, memaksa orang, mem-
pressure
orang, bagian ilmu yang tidak didapat di kampus, dan hanya di
organisasi. Negosiasi, salah dibilang salah. Orang lain benar kita
bilang salah supaya ikut kita.
Itu kan bagian mendoktrin orang untuk bagaimana dia bisa berpikir
sama kaya kita, karena hakekat kepemimpinan itu adalah bagaimana orang
bisa mengikuti kita, dan orang bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi
dari tujuan kita. Itulah sebenarnya esensi daripada seorang pemimpin.
Kemudian saya di situ satu tahun saja saya jadi karyawan, kemudian
saya mundur dari perusahaan. Tapi konsep itu saya yang buat, bagaimana
perusahaan ini berjalan segala macam, dan satu tahun itu saya bisa
memberikan profit kepada perusahaan waktu itu Rp 10 miliar lebih. Itu
profit, bukan omzet. Setelah itu saya mengundurkan diri.
Dan waktu saya mulai konsep perusahaan itu pakai motor ojek. Motor
ojek, dan saya menyebut waktu itu sekretariat berjalan. Karena apa? di
dalam tas saya itu kertas cap dengan kertas kop surat, saya ketiknya di
rental, warnet.
Belum punya kantor sendiri?
Belum punya kantor. Karena waktu itu kan perusahaan mau dibangun
apabila ada konsep. Saya ditunjuk waktu itu untuk jadi direktur
kebetulan di perusahaan tersebut, karena perusahaan baru dibangun, dan
ide dasarnya dari saya. Dan untuk punya ide, punya proposal FS-nya itu,
saya sendiri buat dengan cara, ya mulai dari 0. Konsepnya diterima,
setelah itu baru diajuin. Punya duit. Satu tahun dua bulan kalau nggak
salah saya bekerja di perusahaan, saya berhenti.
Kenapa berhenti? Bosan?
Waktu itu tidak bosan sebenarnya, waktu itu saya hanya ingin suasana
baru. Karena dari tidak punya duit, tiba-tiba gaji Rp 35 juta di tahun
itu, saya anggap sudah besar, sudah dikasih rumah, dikasih mobil,
istilahnya dari sepatu miring, kaya agak sedikit setengah manusia.
Jadi kehidupan saya itu kan dulunya agak monyet gitu ya, agak sepatu
miring istilah saya itu. Dan saya tidak malu untuk mengatakan itu, saya
tidak malu. Saya mengatakan bahwa di usia saya dari 0 sampai 26 tahun
itu hidup saya setengah manusia, bukan manusia seutuhnya. Hidup susah
sekali. Umur 26 mendekati 27 baru mendekati kemanusiaan. Umur 29 baru
manusia seutuhnya.
Saya mundur dari perusahaan itu, kemudian saya memberikan perusahaan
pada teman-teman mereka yang lanjutkan. Saya mencoba untuk membangun
perusahaan yang lain lagi, yang tidak di bidang yang saya bangun itu.
Sama sekali tidak di bidang itu?
Tidak. Kenapa? karena kalau saya kerja pada di bidang yang sama itu
saya tidak punya etika. Dan saya tidak menghargai komitmen persahabatan
dan persaudaraan kepada teman-teman yang telah saya bangun. Jadi saya membangun perusahaan lain yang bergerak tidak di bidang IT
dan konsultan keuangan. Kemudian, teman-teman saya waktu itu bilang
kenapa, tawaran segala macam, (saya jawab) ‘Nggak bro, saya kan harus
juga berkembang’ saya terimakasih teman-teman lah yang mengajari saya,
dan memberikan perasaan manusiawi. Karena saya belum pernah pegang uang
Rp 35 juta dalam satu bulan.
Umur berapa digaji Rp 35 juta itu?
25 tahun, menjelang 26 tahun. Beres kuliah lah. Saya dikasih dividen
waktu itu, dikasih penghargaan uang, saya masih ingat itu Rp 600 juta,
karena saya bisa menghasilkan profit Rp 10 miliar lebih kan. Saya
dikasih uang Rp 600 juta, itu saya pakai buat modal.
Untuk mendirikan perusahaan baru?
Ada salah satu perusahaan tapi saya nggak bisa sebut namanya.
Di bidang apa?
Saya waktu itu di bidang
trading kayu. Jadi kayu kemudian
apa saja. Prinsip saya waktu itu apapun yang bisa dihasilkan uang yang
penting halal kita lakukan. Setan pun kalau bisa dijadikan uang, saya
jadikan uang. Selama itu halal, selama itu tidak melanggar UU, selama
itu tidak merugikan orang. Jadi waktu itu pikiran saya adalah apapun
yang bisa kita hasilkan uang yang penting halal, kita lakukan. Tapi
core-nya waktu itu adalah main di
trading kayu. Sama karena ada beberapa teman-teman yang merupakan pejabat, kemudian
masih diberikan ruang kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan di sektor
pemerintah. Sampai di situ.
Kenapa Anda tinggalkan gaji besar saat umur masih muda?
Banyak teman-teman yang bilang saya gila, hidup saya sudah aman
nyaman, kok bisa mengambil risiko yang pada akhirnya monyet lagi, itu
kan teman teman kuliah saya bekerja sebagai hina saya. Dan teman-temanku
yang mengatakan saya gila, termasuk istri saya sekarang. Dulu itu
hampir putus gara-gara saya jadi gembel lagi. Jadi harusnya gaji saya Rp
35 juta, buat dia ekspektasinya sudah cukup begitu loh, hidup mewah
nggak, menderita nggak, cukup.
Tapi saya lebih memilih untuk tidak lanjutkan, di situ hampir saya
tidak jadi menikah sama dia. Hampir itu, karena jadi monyet gitu kan.
Tapi itu semua pilihan hidup menurut saya dan setiap hidup itu harus
berani mengambil keputusan, kita tidak bisa masuk dalam bayangan yang
tidak nyaman, saya ambil keputusan tapi itu kembali ya recovery saya itu
hampir satu tahun.
Recovery terus 1 bisnis goal. nah sudah
mulai kerja enak di situ tapi ya dihina orang juga. Kesuksesan itu tidak
ada yang dicapai dengan cara yang mudah, terkecuali yang orang sudah
punya.
Di umur berapa atau fase yang mana saat Anda merasa sudah sukses?
Kesuksesan itu relatif, dan saya tidak pernah merasa sukses. Biarlah
orang yang menilai, tapi saya selalu punya prinsip hidup itu, belajar,
belajar, dan belajar, serta kerja dan harus sukses. Jadi kerja keras,
kerja cerdas, dan kerja Ikhlas, itu orientasi sama dengan ibadah.
Kalau kita kalau kita bekerja ikhlas, itu kalau kita tidak dapat
profit di dunia, kalau ikhlas dan bermanfaat untuk orang, InsyaAllah
profit kita akan diterima di akhirat sebagai bentuk amal ibadah. Dan
menurut saya juga ukuran kesuksesan ini sebenarnya relatif. Ada orang
yang mengatakan bahwa duit banyak itu sukses, kalau saya mengatakan
tidak.
Bagi saya duit itu bukan tujuan hidup, itu bagi saya ya. Orang semua
butuh duit, tapi duit bukan tujuan hidup, duit adalah fasilitas hidup.
saya sebagai orang muslim tujuan hidup saya adalah harus bisa berguna
bagi orang lain rakyat bangsa negara dan saya bisa menjalankan apa yang
menjadi perintah Allah yang pada akhirnya kemudian suatu saat saya akan
pertanggungjawabkan.
Jadi kalau ditanya sukses, ya bingung, apa suksesnya itu, karena saya
nggak punya duit dengan punya duit bedanya apa ya. Bedanya dulu kalau
saya makan susah, kalau sekarang nggak, dulu jalan kaki tahun 99, kan
saya jalan kaki semua ini di Jalan Diponegoro sampai ke Gambir itu jalan
kaki, dulu gembel pokoknya. Saya kan di Jakarta dulu tidur di mushola
gembel kita dulu kan. Saya Pakai baju saja dulu Rp 50 ribu, sekarang
mungkin karena tuntutan jadi agak sedikit baik.
Tapi nggak ada juga perasaan kalau punya ini harus merasa lebih, bagi
saya semua orang itu sama saja, yang membedakan itu di mata Allah.
Sampai sekarang Anda sudah banyak perusahaan, titik baliknya itu sebenarnya di mana?
Pada saat keluar kerjaan. Kemudian saya buat perusahaan, perusahaan
itu pernah menurun, kemudian saya bangkit. Bangkit itu Alhamdulillah
mulai dari situ. Itu tahun 2004 belum terlalu lama.
Sekarang sudah ada berapa perusahaan?
Ya rahasia perusahaan lah. Ada beberapa lah, besar juga nggak, kecil
juga nggak, jadi sedang-sedang saja. Saya suka sedang-sedang saja.
Anda dirikan sendiri itu ya?
Hampir semua.
Semua basis di Jakarta atau ada yang di Papua?
Di beberapa tempat, ada di Papua, ada di Sulawesi, ada di Maluku, ada di sini (Jakarta), ada beberapa tempat.
Dari semua yang Anda capai, kira-kira pelajaran apa yang didapat?
Begini, pelajaran yang paling Hikmah itu adalah jangan pernah
menganggap remeh orang lain yang posisinya di bawah. Karena nasib orang
itu nggak ada yang tahu, roda itu berputar. Artinya apa? kalau kita
ketemu dengan pejabat, ketemu dengan orang yang punya uang, jangan juga
kita menganggap melebihi dari Tuhan. Mereka itu biasa saja.
Tapi jangan juga hari ini kalau kita lihat orang belum berhasil,
orang kecil, jangan juga hina mereka. Jadi kesahajaan menurut saya ya,
perlakukanlah manusia yang lain itu sama dengan anda memperlakukan
dirimu, karena kita tidak bisa menebak hari ini orang yang belum punya
apa-apa itu selamanya.
Saya ini menurut saya manusia yang bersyukur kepada Allah. Saya tuh
dulu dihina, jadi saya dulu itu juga nggak pernah terpikir suatu saat
ini jadi Ketua Umum Hipmi. Nggak pernah terpikir suatu saat bisa jalan
sama menteri, bisa jalan sama presiden, nggak pernah terbayang. Karena
itu saya syukuri saja. Dan ukuran kecukupan dan kesuksesan itu kan
tergantung dari orang itu mempunyai standar masing-masing. Dan dari
kacamata mana dia melihat.
Dan saya melihat orang, bukan dari apa yang dia miliki sekarang,
dalam konteks materi duniawi. Tapi saya mengagumi orang, dari apa yang
dipikirkan, dan apa yang dia lakukan, serta apa karyanya untuk bangsa
dan negara. Itu jauh saya lebih menghargai orang itu ketimbang dia harus
memamerkan apa yang dia punya dalam konteks harta. Karena kita ini
semua itu titipan Allah. Jangankan harta kita, diri kita saja milik dia.
Jadi ya kalau ketemu sama orang juga jangan merasa rendah kalau
ketemu sama orang hebat. Tapi kalau ketemu dengan orang yang rendah
jangan juga merasa diri tinggi. Pelajaran itu yang menurut saya paling
terima.
Siapa orang paling berjasa bagi Anda?
Mamah dan bapak saya. Kerja keras saya itu, saya terinspirasi dari
ayah saya. Ayah saya itu seorang buruh bangunan, dia mampu menyekolahkan
anaknya 8 orang, dan semua sarjana. Gaji Rp 7.500 per hari, tapi dia
bisa memberikan makan untuk semua anaknya. Dia kerja, sakit pun dia
kerja.
Dia kerja tidak pernah mengeluh, begitupun mamah saya. Jadi rasa
tanggung jawab untuk kerja keras menghidupi anak-anaknya, itu tinggi
sekali. Dan cara itu yang kemudian saya adopsi dalam bekerja. Saya akan
selalu kerja keras, karena kalau saya sendiri yang sudah sekolah,
kemudian punya
fighting spirit, kurang dari apa yang bapak saya
lakukan, itu artinya ayah saya tidak berhasil dalam membina. Tapi kita
bisa melakukan hal-hal yang minimal sama dengan ayah saya dalam konteks
berjuang, maka ayah saya tidak gagal dalam melahirkan dan membina kami.
Bagi saya yang berjasa paling besar, ya mamah bapak saya. Yang selalu
tidak henti-hentinya mengajari kami pada hal-hal yang ringan tapi
prinsip. Contoh, sedikit punya kita, jauh lebih baik itu punya kita
daripada mengambil hak orang. Satu lagi prinsip, bayarlah upah orang,
sebelum keringatnya kering. Itu bapak saya, karena bapak saya pernah
merasakan gajinya terlambat tiga hari, dan kami hampir tidak makan, kan
begitu. Jadi kenapa bapak saya ngomong, karena dia pernah merasakan itu.
Saat sukses, orang tua Anda tahu?
Bapak saya sudah meninggal, jadi waktu bapak saya meninggal itu 2003.
Bapak belum sempat melihat saya bisa melakukan hal sifatnya mencukupi
standar. Saya masih karyawan waktu itu. Mama saya Alhamdulillah masih
ada.
(Mrk)
Dikutip : https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3987205/bahlil-mantan-sopir-angkot-yang- jadi-pengusaha-sukses/